Adikku yang satu ini benar-benar bandel. Jika ada yang salah sedikit, untuk meluapkan emosinya ia langsung berteriak sekeras-kerasnya. Mukanya memerah dan urat lehernya muncul ke permukaan. Tetangga sekitar harus bikin rumah kedap suara untuk menulikan telinganya. Kucing pun ikut lari ketakutan. Bahaya betul. Bikin suasana gaduh. Tak ayal, ketika ia mulai berteriak histeris, jari telunjuk Ummi' langsung tertuju padaku. Sesekali ke Bak Ita. Selalu saja kami yang jadi tersangka atas tragedi teriakannya setiap waktu.Namanya Sibghatallah Lu’lu’ Al-Maknun Mujaddidah. Nama terpanjang diantara sesaudara, bahkan sedesa Pananggungan. Nama-nama kami memang murni pemberian dari Bapak. Nama panggilan kami bertiga memang tak ada yang persis mengambil dari nama lengkap. Adikku termasuk yang paling melenceng. Bapak memberinya panggilan Emelda. Dia akrab dipanggil Emel oleh teman-temannya. Adapun panggilan olehku banyak sekali riwayat, mulai Enda, Klu-klu, hingga saat ini aku menganggilnya Gelgell. Tak menutup kemungkinan ada panggilan selanjutnya.


